Di sudut Excelso cafe gw bisa liat sosok itu datang. Semakin dekat semakin takjub gw dengan apa yang gw lihat. Penampilannya 100 % berbeda dibandingkan 2 tahun yg lalu, tetapi wajahnya tetap sama walaupun ada sapuan eye liner di matanya. Ah Tari dengan rambut berponi pirang terurai, kacamata hitam besar, celana jins ketat elo bukan seperti elo yang gw kenal dulu. Apa yang dikatakan Eko di kantor tempo hari memang benar.
Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Apa yang terjadi sehingga membuat loe menjalani apa yang dulu ragu buat loe lakukan. Mengalirlah cerita tentang perantauan elo di Bali, masuk ke dunia yang memang merangkul loe ketika loe berada di keterpurukan. Berjuang di Bali, menghindari kejaran calang/polisi adat. Menghabiskan malam dan uang dengan 3 pilihan : Ekstasi, Shabu atau Minum. Dan yang terakhir adalah pilihan loe yang mengakibatkan tubuh loe berontak bak keringnya pohon di musim kemarau panjang. Belum lagi begundal itu yang mencampakkan loe begitu saja. Ah cerita itu membuat gw terhenyak dan berempati buat loe.
Akhirnya tiba waktunya buat loe pulang ke tempat aman dimana elo selalu dirindukan. Bak menemukan oasis di tengah padang pasir yang luas, loe puaskan dahaga loe. Beruntung tempat itu bisa menerima elo apa adanya, tanpa mempertanyakan mengapa jalan itu yang elo pilih. Jalan yang berlawanan arah dengan arah bumi berputar. Jalan yang bagi sebagian orang merupakan pilihan yang bodoh dan melawan bumi. Cerita lain mulai bergulir dimana loe dan dunia loe bisa membuat loe makin percaya diri dan mulai bisa mengekspresikan diri loe. Kemenangan itu akhirnya bisa loe raih dan hampir membuat loe terbang ke Ibu Kota Indonesia tercinta.
Berjalan dengan Uthe membuat gw risih, bukan karena dia tetapi tatapan di sekitar kami. Setiap pandangan mata tertuju pada gw dan kemudian lama menelanjangi Uthe, atau sekedar cekikikan sambil melirik-lirik Uthe. Sekarang keadaan berbalik. Dulu gw sering menatap lama2 dan berdiskusi dengan otak gw sendiri , ketika gw berada diposisi mereka. Ingin rasanya gw berteriak ke semua orang yang menatap kami di sepanjang siang itu. Apa yang salah dengan dia?? Uthe sama dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Kalau ada yang berbeda itu karena dia memilih jalan yang sangat beresiko dan dia mampu menghadapinya.
Ah uthe apakah mungkin suatu hari nanti loe akan menikah selayaknya impian orang lain. Jawaban itu belom bisa loe berikan, yang terucap hanya loe akan menjalani saja apa yang sekarang sedang loe lakonkan. Jika suatu saat nanti keadaan berubah loe gk akan melawan arus. Loe hanya ingin meninggal dan diterima dengan tangan terbuka oleh sang Maha Pencipta.
Diluar sana masih banyak Tari atau Uthe lainnya. Yang berjibaku dengan hidup. Menjadi momok masyarakat. Tetapi di dalam hati mereka hanya manusia biasa yang mengikuti kata hati. Uthe semoga bingkisan kecil itu bisa membuat loe lebih menghargai hidup… Amin