Raining on Me
09. Apr '08
posted in Uncategorized

Ganteng tapi…..

Cowo itu tampan dengan tinggi mungkin 170an, punya janggut, berkacamata, dan gw yakin dia pasti jadi uhuy2nya dan -dipanggil orang gila2- digila2in ma perempuan2 yg kenyes2.  Siapa yang nggak mau jadi cewe dia kecuali gw tentunya hihihihi….. Kalau di bandingkan dengan Ferry Salim, dia gambaran Ferry waktu masih muda. Dari segi fisik memang dia gk ada celah atau cacatnya, apalagi cacaran.

 

Tuhan itu maha pencipta ya. Gk ada mahluk sempurna di dunia ini. Dan pembuktian itu ada di depan gw. Yah di depan gw…. Kalian tau …dibalik ketampanan itu ada sedikit cacat…. Tiap kali dia hirup bubur kacang ijo, tiap kali pula bunyi yg tak enak didengar itu bergema…Ssssslllllluuuuurrrppp……ssssllllluuurrppp. Sendok demi sendok dia hirup kehangatan bubur kacang ijo. Sementara tetangga disebelahnya merana terajana mendengar suara yang amat di benci. Belum cukup suara ssssllluuurrrpppp di keluarkan ada lagi nada muncul tak mau kalah dengan temannyaDengan perlahan tapi pasti dan dengan nada dasar Y (Yaampyun) keluarlah suara itu, capcapcapcap. Suara yang membuat telinga ini merana durjana.

 

Tak hanya satu piring mie goreng yg dia habiskan, masih ada bubur kacang ijo dan disusul dengan opor ayam menjadi santapannya. Suara2 itu tetap muncul silih berganti terdengar.  Sementara sang Ayah -itu menurut gw- dengan santainya duduk cantik. Ah nak, kalau kau tau salah satu pendengarmu pasti membenci caramu bercumbu dengan makanan. Andai kau tau banyak mahluk tuhan yg berlekuk2 itu merana mendengarkan suara makanmu, belum lagi suara sendawa di tengah ruangan yg sunyi ini….Kalau saja ada cctv dan tayangan itu ditunjukkan padamu, gw yakinkau akan tambah menundukkan kepalamu memeluk bumi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


05. Apr '08

Buat Om

Om ..sore ini langit cerah. Biru menghampar di antara gelembung2 awan. Angin berhembus meredakan peluh dan gerak kaki.

Kamu tau di tengah2 lagu Bryan Adams “Inside out”, yang membuatku merinding disko . Membayangkan pertemuan yang diimpi-impikan. Ingin cepat2 bertemu denganmu. Kamu tau kalau semalam aku memimpikanmu. Memulas bibirmu dengan menjelajahi punggungmu. Di tengah laut, bermandikan matahari yang menyala bak kembang api di malam hari. Ah.. teriksa, perasaanku tersiksa.  Pikiranku mengembara, menjelajah isi bumi mencari ketenangan. Mencari embun pelepas dahaga.

Seperti ayam yang menantikan terbitnya matahari. Seperti padi merindukan hujan. Itulah perasaanku padamu. Ya… lama sudah kita tak bertemu, hanya mencuri2 waktu dengan menelpon atau mengirimkan sms. Ya… hanya malam2 saja yang menemani kita. Malam-malam yang memberikan kita waktu dengan leluasa bercumbu.  Malam adalah sahabat terbaik yang kita punya. Ia mengerti kapan harus diam, kapan harus menyampaikan berita. Dinding saksi pertemuan kita di atas angin. Ia membisu, walau sering mencuri dengar.  Let’s make a night to remember menjadi lagu kita. Ya lagu kita, lagu yang kita “claim” sebagai punya kita, walau Bryan Adams yang menemukannya.

Kalau mesin waktu ditemukan, aku yakin kita berdua akan memborong semuanya. Kalau mesin waktu ada, aku yakin kita berdua tak mau berbagi dengan yang lain.

Kapan…. kapan waktu pertemuan itu akan datang ??? Hanya Om yang bisa menjawabnya …


02. Apr '08
posted in Uncategorized

Selamat Jalan

Sepi itu baru saja terasa. 1 jam  berlalu engkau pergi dari sini dan mungkin takkan kembali. Ya…Pak Nursalim Chan..lebih tepatnya lagi Pak Chan. Teman satu kerja,  satu kantor dan satu ruangan yang saya kenal 6 tahun lalu. Ah…6 tahun yg panjang sungguh tak terasa. Rasanya baru kemarin Pak Chan, saya masuk ke ruangan ini. Berbagi tawa, cerita canda dan amarah. Rasanya baru kemarin saya bener2 akrab denganmu. 14 tahun sudah dirimu berkutat dengan pekerjaan yang tidak dihargai sepantasnya oleh manusia2 tinggi tak berbelas kasih. 14 tahun tanpa terasa, kau kokoh berdiri merapatkan barisan agar tetap berdiri egak. Bahkan sampai kemarin pun kau masih bekerja dengan penuh dedikasi tinggi, pagi ini kau masih melayani tamu-tamu yang datang. Ucapmu “Saya diajarkan oleh bos saya dulu orang Jerman. Untuk tetap bekerja walaupun pensiun datang”. Ah Pak Chan kata2 yang menusuk hati membangunkan saraf2 untuk mengingat apa yang telah mereka berikan kepadamu, tak sebanding dengan perkataanmu.

Hari ini, yah tepatnya jam 9 pagi kami mengadakan sebuah pesta kecil untuk mengingatmu.  Sebuah pesta yang tentunya tak mau kau adakan. Sebuah pesta yang bisa membuatmu menangis. Tetes air mata itu keluar dari mata yang melihat begitu banyak peristiwa yang terjadi. Tetes air mata itu keluar dari hati yang menahan beban berat dalam menjalani hidup. Tetes air mata itu keluar dari jiwa yang bersimbah peluh.  Peluk eratmu ke setiap orang memberikan kedamaian, jabat tangan eratmu memindahkan kekuatan, senyumanmu memberikan keberanian.

Saat ini saya masih berduka merasa sepi…seakan2 kami tidak akan bertemu lagi. Ternyata kehilangan menyadarkan hati bahwa sangat berarti mempunyai teman seperti mu Pak Chan, dan mungkin tidak akan ada manusia yang bisa menggantikanmu. Jaket hitam almamater dan sebuah foto dipersembahakan untuk mengingatmu kembali bahwa hari ini saya kehilangan satu lagi teman kerja yang memberikan saya banyak pengalaman hidup.

1.jpg