Famous
Kalimantan ditengah siang hari yang nggak jelas mendung nggak panas nggak. Sekali lagi gue coba wat sms manusia paling populer saat ini. Damn….5 …15….30 menit gk ada balasan juga… Gue coba telpon deh, namanya juga temen ya harus berkorban… Hore diangkat..
“Halo…” Suara diseberang sana, suara yang sangat gue kenal.
“Eh lagi ngapain..” Seperti biasa kata pembuka gue buat dia.
“Ya biasa lah nggak ngapa2in sih”, nada suara yang terpaksa…males2an..
“Oh….” Jawab gue dengan perasaan menyesal kenapa juga gue mau telpon dia.
Hening…diam… hanya otak gw yang mencaci maki
“Ya udah deh sori klo ganggu”, mulut gue monyong monyang manying.
“Oke, baii” Ujar suara diseberang sana… Rasanya dia lega harus menyudahi percapakan ini.
Klik..handphone gue matiin dan gue lempar ke atas kasur. Bruk…gue rebahkan badan gue ke atas kasur.. Gulang guling… gue tatap langit-langit kamar, pikiran gue mengembara mencari-cari jawaban yang pas untuk memenuhi rasa kecewa, penasaran dan makian gw.
Ah.. 1 tahun yang lalu, gue adalah orang pertama yang mengajak dia berkenalan. Lebih tepatnya gue adalah orang yang paling sering berbicara dan memberi perhatian ke dia. 1 tahun yang lalu gue bisa bebas bercengkrama dengan dia, seperti gue, kami saling bergantung satu sama lain. Selama rentang waktu itu pula gw ajarkan dia bagaimana menghadapi dunia ini, bagaimana bersosialisasi dan berbaur dengan sekitar. 31.536.000 detik gue berbagi waktu dengan dia. Iya D I A mahluk tuhan yang bertemu pertama kali di kantin.
Dia sama seperti lelaki kebanyakan, punya 2 mata, hidung, telinga dan sedikit kumis tipis di atas bibirnya. Kami memang satu kelas, tapi dia selalu berada di pojok. Entah di dalam kelas, di taman atau ruang praktek. Jarang sekali ada teman yang mengajaknya ngobrol. Kebetulan waktu itu gue dipasangkan dengan dia untuk mengerjakan tugas mata kuliah Perencanaan Lingkungan. Canggung adalah perasaan yang gue alami ketika mulai membicarakan tugas itu. Seminggu berlalu setelah gue selalu berhubungan dengan dia, semakin lama gue semakin tau kalau dia tidak pendiam dan membosankan seperti wujud fisiknya. Malah sebenarnya dia masuk katagori cowo yang bermasa depan cerah hihihi. Bukan karena dia kaya -anak pertama dari 2 bersaudara pengusaha show room mobil- kenapa gue sebut dia cowo bermasa depan cerah, tapi memang pola pikir dia, cara dia menganalisa dan tentunya otaknya yang cemerlang menjadikan dia prospek yang cerah untuk masa yang akan datang.
2 bulan berlalu dan akhirnya dia bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Boleh dibilang dia sudah menjadi perhatiaan cewe2 di kelas kami. Selama itu hubungan gue dan dia baik2 saja. Di sela2 waktu kuliah gue selalu mendorong dia untuk lebih berani lagi untuk mengemukakan pendapat, bercanda dengan teman2, ikut jadi panitia di setiap acara yang diselenggarakan jurusan kami.
6 bulan sudah, dia sudah menjadi ketua HMJ. Hebat…dan gue bersyukur atas pencapaian yang dia raih. Yah gue adalah orang di belakang layar, yang bisa membuat dia seperti ini. Membuat dia diterima oleh semua orang, dikenal bahkan dipuja. Bukan gue mau sombong atau congkak, tapi kenyataannya seperti itu. Gue bisa merubah seekor kelinci menjadi singa. I am the Master.
10 bulan, akhirnya waktu wisuda tiba juga. Ada sedikit perubahan, bukan sedikit lebih tepatnya 50%. Perlahan dia mulai meninggalkan gue. Dalam artian gw udah nggak diminta lagi pendapatnya, dia mulai tidak mau lagi ngobrol panjang lebar ke gue, hanya pada saat2 tertentu saja dia mau berlama-lama dengan gue itupun karena dimata dia hanya gw yang mampu membantu dia. Kesal ?? sedikit ada, tapi gue biarkan rasa itu melayang2 di atas ubun2 kepala gue. ”Eh kok loe udah gk bareng lagi sih ma Monty ?”. Beribu alasan gue buat, supaya orang2 tidak tahu bahwa diantara kami sudah ada jarak. Goblok memang, gue bertahan buat seorang kelinci…. kelinci yang sudah berubah menjadi singa.
12 bulan. Sampai telepon gue tutup tadi, dia semakin jauh. Semprullll kenapa sekarang keadaan berbalik, tampaknya sekarang gue yang berubah jadi kelinci. Rajin menanyai kabarnya, tanpa dia pernah berbuat hal yang sama. Menawarkan bantuan atau sekedar mengajak makan siang yang tak pernah di “iya” kan olehnya.
Ah ternyata ada saatnya ketika orang sudah berubah menjadi dikenal, populer, hebat atau mumpuni dia akan melupakan kita. Ketika dia bukan siapa2 maka kita yang akan dipuja2nya bak Raja. Kita adalah yang paling cocok untuk dia. Kita yang paling oke dimata dia. Kalau dia sudah di atas puncaknya maka dia akan berubah menjadi musuh. Musuh dalam selimut yang siap kapan saja merobek2 perasaan kita.
NB: Monty adalah benar sahabat gue dan sekarang tinggal di Batam. Tapi Monty bukanlah “dia”. Monty adalah inspirasi gw. Pesan moralnya adalah jangan sakit hati ketika elo selalu tidak bisa menggapai teman/sahabat/saudara yang dulu “bukan apa2″ dan sekarang menjadi “siapa”.
15 Comments »
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI




venus said,
March 8, 2008 @ 3:30 am
ikhlasin aja. yuk kita belajar nyabutin alis aja yuukk
dian said,
March 8, 2008 @ 2:53 pm
wah gue kenal eda, ama monty. yg kecil2x berkumis, khan ? ah itu ponty..bukan monty hehhee
Ersis Warmansyah Abbas said,
March 8, 2008 @ 6:21 pm
Kisahan bagus yang menghentak. Bagus.
citra said,
March 9, 2008 @ 1:11 am
ya begitulah kehidupan dan persabatan, tidak bisa di tebak
kenny said,
March 9, 2008 @ 6:01 am
iya..daripada mikirin si bonty eh monty lebih baek rame2 cabutin bulu alis =))
zilko said,
March 9, 2008 @ 8:27 am
lha, ini cerpen ato cerita beneran sih?
Bukannya Mbak Tata uda kerja yah? wkwkwkw… 
Tia said,
March 9, 2008 @ 4:03 pm
ih, nyebelin banget rasanya digituin mbak, itu kan seperti habis manis sepah dibuang…
ya bersabar aja, didoakan yg baik2 aja deh si monty nya…:)
tukangkopi said,
March 9, 2008 @ 5:54 pm
saya pengen dirubah jadi singa juga dunk. bisa?
enggak bakal dilupain deh jasa-jasanya. janji!
*janji2 palesu*
jeng endang said,
March 9, 2008 @ 6:12 pm
dari yg kayak begitu2 itu, elo bisa mengenali yg mana sahabat yg sesungguhnya, Ta…..tuh udah diajakin Venus….oke aja!
ndoro kakung said,
March 9, 2008 @ 8:43 pm
monty? montok ti …
bangsari said,
March 9, 2008 @ 8:49 pm
tak kusangka engkau masih mengingatku sedemikian rupa, merindukanku sedemikian dalam. hikss…
Abah said,
March 10, 2008 @ 2:15 am
Psikologis, pemerhati itu juga haus perhatian. Ibarat yang bercermin, klo dia bisa senyum maka yang lain juga kudu mampu senyum. Klo nggak, walah kayak apa sengsara dihatinya. Kasus Monty genjul itu jadikan aja sebagai cermin retak lho mbak. Jangan biarkan ada dendam dihati, “lelaki itu memang bangsat.” Ntar malahan mbak yang dicap sakit. Mendingan sering2 aja, makan durian lampo ramei2 berbusana merah2 kayak di header itu. Masih banyak lelaki yang baik dan tak semua laki laki, bersalah kepadamu. Tul gak tuh mas Ersis?
fa said,
March 11, 2008 @ 6:21 am
besok telpon saya saja buk
*mumpung saya blum terkenal*
meli said,
March 12, 2008 @ 9:20 am
tabah jeng…masih banyak lagi yg mau jadi temen kamu.
yulia said,
March 17, 2008 @ 1:19 am
cari temen sejati emang susyeh, tp kl cari musuh gancillll..tul gak..
eh tp lo kan gak jd musuhan sm die? kok jd kek anak sd sih gw ngomongnya wakwakwwkakwakakakk